kamu-KITA-ku


Tak mengapa jika KITA bukan lagi empat huruf yang beraturan  
K  I  T  A kebersamaan yang telah usai di persimpangan jalan yang belum menemukan ujung
Disetiap kenang yang tidak menjadi sebuah kenangan
K I T A hanya sebuah ketidaksengajaan yang disengaja untuk hadir sebagai sebuah kekeliruan
Kekeliruan yang bisu
Ketidaksengajaan yang tuli
Dan kenangan yang buta
Untuk kamu-KITA-ku yang dulu
Dan yang kini telah tiada
Ajari aku cari melupa agar bisa menghapus ukiran namamu di dada
Seperti ombak menyapu lukisan dipantai



Tulisan singkat ini untuk kamu-KITA-ku yang dulu

Tulisan Pendek Untuk, Be!!!


Hai Be
Apa kabarmu? Lama tak menyapa, semoga saat ku menyapamu dengan  tulisan pendek ini  kamu selalu dalam keadaan baik dan tidak kurang apapun.
Entah darimana aku harus memulainya aku cukup kebinggungkan saat hendak menulis tulisan singkat ini yang khusus akan ku persembahkan untukmu.
Be, kamu tau semenjak kamu tak lagi ada dan senyummu telah hilang tersapu angin
Aku mencoba mengumpulkan sisa debu yang disebabkan angin itu.
Kepergianmu cukup membuat luka yang begitu dalam dan luka paling kejam di hidupku.
Kini luka itu terkubur dalam tubuhku.
Ia bermakam dibagian utama jiwaku, kau tau itu apa Be, Ia adalah hati.
Hati yang sengaja ku simpan untukmu.
Untuk kita mungkin itu lebih tepat dan memang sudah seharusnya begitu.
KITA, ah aku rindu menyebut kita untuk kamu dan aku.
Be,apakah dialam sana kamu baik?
Siapa yang menemanimu?
Apakah dia baik, cantik, hebat dan lebih mengerti bagaimana kamu dibandingkan aku.
Semoga saja begitu dan tentu  itu harapanku aku berharap kamu selalu baik.
 Walau sebenarnya aku sedikit munafik ketika mengharap kamu baik dengan selain aku.
Mereka berkata aku bodoh, tolol, begok atau apalah itu namanya mungkin sejenis seperti sederet kata yang baru saja aku tulis.
Untuk yang terakhir yang ingin ku kata
Bahwa aku masih mengharapmu untuk datang menjemput senja bersamaku.

Jakarta, 27 Juli 2018












Ikan Empang Untuk Juleha



Ikan Empang Untuk Juleha
Oleh: GelasKaca

 Hasil gambar untuk lukisan ikan empang
Ikan ini tak datang dari laut asin
Melainkan dari empang samping rumah
Ku bersihkan sisiknya dari lumpur
Ku kirim lewat pos untukmu

Ikan itu akan sampai di pintu rumahmu besok
Jangan lupa kau masukan ia ke dalam minyak panas
Sebab ia kedinginan di rumah si tukang pos

Juleha, ku beri tahu padamu
Meski hidup di penuhi lumpur
Tapi dagingnya lebih nikmat dari  ikan laut asin
Makan dan nikmati

Ruangbisu,  2017

picture by google 

Penyesalan Leluhur


Penyesalan Leluhur
oleh: GelasKaca
 
Hasil gambar untuk penindasan

Aku mendengar jeritan para leluhur dalam kubur
Mereka menjerit ketakutan 
sebab rumah tempat arwah berdiam digusur
Dihimpit oleh bangunan pencakar langit

Kemana arwah akan beristirahat?
Ketika tanah di gembur,
Truk tronton mengeruk hingga akar

Aku mendengar rintihan moyang mengerutu mengutuk diri
Membiarkan anak cucu memilih jalan neraka
Dengan alasan menyambung hidup

Alam tak lagi jadi kawan
Melainkan lawan yang terus ditindas

Aku mendengar jeritan dan rintihan dari alam
Ketika mereka di perkosa cucu para leluhur

Renung, 2017
 
picture by google

Cintai Aku Sehari Saja

pintaku sederhana saja .
cintai aku sehari saja .
hari ini cintai aku sepenuh hati .
jika cintamu esok masih berkelanjutan dan membuatmu bahagia ..
teruskanlah …
namun jika itu sebaliknya
berpaling dan berhentilah .
cukup hari ini saja kau mencintaiku .

setidaknya
aku bahagia
karena telah merasakan cintamu sepenuhnua
walau hanya sehari saja ..

Bekasi,
GelasKaca

Dibodohi Rasa

Rasa ini membodohiku
Dunia khayalan mencaci aku
Menertawaiku saat sedang terbang bersamamu
Memeluk dan menggigit bibirmu
Aku terkurung dalam penjara rasa
Menatapmu saJa aku tak berani
Lalu, bagaimana mungkin khayyalanku nyata
Dan lagi aku dibodohi oleh rasa...

Depok,
GelasKaca

TERJEBAK DONGENG

kau dan aku
kita adalah sepasang tokoh yang terjebak dalam dongeng
bumi dan langit diciptakan terpisah
air dan minyak mustahil bisa menyatu
kancil selalu saja menjadi tokoh tercerdik
mengelabuhi setiap kawan
dongeng-dongeng tua tampak tak dijamah oleh tangan-tangan masa kini
lalu bagaimana cara kita keluar dari negeri ini?
para pahlawan telah gugur ditelan masa
pada siapa lagi kita harus mengadu
dongeng dongeng tua itu terlupakan
terjerat dan terjebak di negeri ini tak selamanya menyenangkan


Jakarta,
GelasKaca

- Copyright © Gelas Kaca - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -