Bersyukur tanpa syarat

Bersyukur atas nikmat sehat

Kadang hal yang sangat kecil sekalipun bisa membuat kita banyak bersyukur. Contoh saja bangun pagi, bisa menghirup udara segar, melihat orang yang dicinta, serta menuntaskan pekerjaan. Tanpa kita sadari hal kecil ini seperti inilah yang membantu kita untuk berbuat banyak hal dalam kehidupan. Bayangkan saja saat bangun tidur badan terasa sakit dan beberapa anggota tubuh bekerja sesuai fungsinya. Secara otomatis hal-hal yang telah terencana dengan rapi akan berantakan dan tidak terlaksana dengan semestinya. 
Makna kata Syukur dalam KBBI adalah rasa terima kasih kepada Allah SWT.  Sedangkan menurut bahasa syukur dalam kitab As Shahhah Fil Lughah Karya Al Jauhari  adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut.” 
Dalam buku Syamsl Rijal Hamid yang berjudul “Buku Pintar Hadist Edisi Revisi.” Bersyukur atas segala nikmat Allah SWT ini disampaikan oleh Ibnu Amr ra bahwa Rasulullah SAW bersabda.” Ada dua watak yang apabila kedua terdapat dalam diri seseorang, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang sabar dan bersyukur. Yakni seseorang yang jika melihat lebih pintar atas dirinya dalam masalah agama ia mengikutinya.  Dan jika melihat orang lain lebih sulit dari dirinya, lalu ia memuji Allah SWT atas karunia yang diterimanya. Orang seperti inilah yang dicatat oleh Allah SWT sebagai orang yang bersabar dan bersyukur.” (HR. Tirmidzi) 

Rasa syukur datang dari hal-hal kecil yang terlihat oleh mata secara tak sengaja.

Semakin kesini rasanya semakin melelahkan, rutinitas yang dijalani hanya bergulat itu itu saja. Bangun pagi, mandi,  sarapan kemudian mengejar kendaraan umum dan berteman dengan kemacetan ibu kota yang membuat pagi semakin melelahkan untuk di nikmati. Di sela-sela macet terlihat mereka yang dengan semangat menjual tisu, air minum dan lainnya. Ada juga beberapa wajah lusuh menadahkan tangan kepada pengendara yang berhenti di lampu merah. Kadang terbesit dalam hati “Alhamdulillah aku tidak sesulit itu.” Rasa syukur datang dari hal-hal kecil yang terlihat oleh mata secara tak sengaja. Beberapa kejadian yang mungkin membuat kita melalukan perbandingan diri dengan orang lain bisa menghasilkan energi yang positif.
Ada sebuah kisah nyata yang diceritakan Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya yang mengutip riwayat dari Imam Ahmad al-Musnad. Di zaman Rasulullah SAW ada seorang pengemis yang diberi sebutir kurma ole Nabi Muhammad SAW, akan tetapi pengemis menolak karena merasa pemberiannya hanya sebutir biji kurma. Kemudian datang seorang pengemis lainnya dan Nabi Muhammad SAW tetap memberikan sebutir biji kurma. Pengemis ini mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas pemberian nabi tersebut.  Mendengar rasa syukur dari pengemis itu Nabi Muhammad SAW pun menanbah 40 dirham lagi untuknya. 

Bersyukurlah tanpa syarat apapun

Rasa syukur adalah rasa terima kasih atas apa yang telah kita dapatkan dan tidak terfokus kepada diri sendiri  melainkan juga kepada orang sekitar. Salah satu pekerjaan yang bisa membuat diri sendiri dan orang lain tersenyum adalah dengan bersyukur.  Berterima kasih karena telah mendapatkan hal yang berharga ataupun hal yang tidak berharga sekalipun.  Bersyukur dalam setiap keadaan membuat hati menjadi tenang. Bersyukurlah karena masih memakan nasi tiga kali sehari, beryukurlah kamu masih bisa tertidur diatas kasur empuk, bersyukurlah pakaianmu  masih bisa diganti setiap harinya. Bersyukur karena masih bersama mereka yang menyayangi dan kamu sayangi. Bersyukur atas semua keterbatasanmu karenanya kamu diberi kesempatan untuk berkembang dan siap menghadapi tantangan baru dalam hidup. Bersyukur bahwa kamu belum bisa memiliki segala yang kami inginkan karena itu kamu belajar untuk bekerja keras dan memilih hal-hal yang hanya sekedar ingin atau memang butuh. Bersyukrlah untuk segala hal yang tejadi dalam hidupmu karena tanpa sengaja hal-hal tersebut membuat kita belajar dan mengerti akan hal baru lainnya. Bersyukurlah tanpa syarat apapun maka kamu akan menemukan kebahagiaan disana. 

Depok, 2020


Peron Tiga




Peron  Tiga

Untuk pertama kalinya aku menunggu kedatangan kereta tengah malam dan menyaksikan pemandangan malam di stasiun. Aroma malam pekat semakin menusuk tubuhku yang larut dalam penantian. Bising suara jangkrik dan hentak kaki penjaga stasiun yang mondar-mandir menjadi hiburanku.
Malam itu aku memutuskan untuk duduk di bangku tunggu peron satu sambil membaca novel Lalita dari Ayu Utami. Larut dalam hening malam dan bisikan angin yang sepoi membuatku semakin menikmati penantian ini. Seketika itu tiba-tiba saja aku melihat dari seberang peron tiga ada seorang wanita yang duduk sambil melambaikan tangan kepadaku seakan memberi isyarat untuk menyuruhku menghampirinya. Tanpa berpikir panjang aku langsung berjalan menujunya.
Sesampainya di dekat wanita itu aku tersenyum kepadanya dan duduk di sampingnya.
“Kamu menunggu siapa?” sapa ku Dia menatapku dan tersenyum

“Menunggu teman atau siapa? Aku sedang menunggu adikku. Ini perta ma kalinya aku menunggu kereta luar kota tengah malam di stasiun ini. Ternyata warna malam yang pekat ini mampu menghipnotisku untuk betah berlama- lama menunggunya. Bagaimana denganmu?” ucapku sambil membalas senyumnya
Lagi,,lagii wanita ini hanya diam dan menatapku sambil sesekali melempar senyum padaku. Aku sempat dibuatnya kebingungan dia tak menjawab semua pertayaanku hingga akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan membaca novel dan memilih tetap duduk di dekatnya.
Sambil membaca novel sesekali dia menatapku dengan tatapan dalam dan itu membuat ku risih.



“Ah, ya sudahlah aku abaikan saja wanita ini. Dia aneh ku tanya tak dijawab tapi selalu menatapku dan tersenyum.” Gerutu ku di hati.
Aku larut dalam novel Lalita dan mengabaikan wanita yang duduk disebelahku. Aku menganggapnya tak waras karena selalu melemparkan senyum padaku  tapi tak mau di ajak bicara. Aku ajak bicara juga tak pernah di jawab hanya membuat kesal saja.
###

Sudah hampir tiga jam aku menunggu kedatangan adikku di stasiun ini. Namun keretanya tak kunjung datang. Aku mulai gelisah dan berpikiran yang tidak-tidak.
Astagfirullah.” Ucapku sambil mengelus dada

Pikiran jelek mulai menghantuiku. Tidak aku tak boleh berpikiran seperti ini. Adikku sebentar lagi akan sampai. Aku menatap pada wanita di sampingku nampaknya dia santai saja tak khawatir sedikitpun berbeda denganku yang mulai gelisah.
“Kamu menunggu siapa Mba? Kenapa dari tadi pertanyaanku tak dijawab.” Ucapku kembali memecahkan keheningan dan membuka kembali pembicaraan yang memang belum sempat terbangun antara kami.
Kali ini dia kembali menatapku dan tersenyum. Ah, perasaan ku mulai tak enak. Wanita ini bisu atau bagaimana pikiran yang tidak-tidak tentang wanita ini mulai menghampiriku.
“Menunggu keluargaku.” Jawab wanita itu singkat “Akhirnya dia berbicara juga.” Lirihku dalam hati
“Oh begitu, aku menunggu adikku. Kamu menunggu kereta darimana?” sambungku
Kembali ia melemparkan senyum dan tak memperdulikan pertanyaanku.  Ah, lagi lagi dia membuatku kesal pertanyaaku di abaikannya lagi. Karena gelisah sudah



berjam-jam menunggu. Aku memutuskan untuk meninggalkan wanita itu dan menghampiri petugas stasiun
“Pak kedatangan kereta dari Yogyakarta jam berapa yah? Saya melihat jadwal kedatangannya jam 23.15 Wib tapi sudah jam segini belum juga sampai.” Tanyaku pada petugas loket kereta luar kota
“Maaf Mba, keretanya mengalami keterlambatan mungkin akan sampai sekitar satu jam lagi.” Jawab petugas loket
“Baiklah pak.” Jawabku kesal

Berjam-jam menunggu di sini membuatku bosan. Aku memutuskan  untuk masuk ke Indomaret dan memb eli cemilan. Kemudian kembali duduk di bangku tunggu peron satu. Aku tak ingin kembali ke tempat wanita itu. Dia hanya membuatku kesal saja.
Wanita itu kembali melambaikan tangannya ke arahku. Tapi kali ini aku mengabaikannya. Cukup sudah dia membuatku kesal lebih baik aku menunggu di sini saja sambil membaca novel dan menikmati cemilan.
###

Grit grit griiiiiiit suara pluit kereta dari kejauhan membangunkan ku yang mulai larut dalam mimpi indah bersama lalita yang membangun peradaban jagad di Nusantara. Segera aku berlari menuju peron tiga tepat di mana kereta itu berhenti.

Ku pandangi satu per satu wajah yang turun dari kereta tapi tak ku temukan wajah adikku. Apa aku mulai tak mengenali wajahnya, enam tahun sudah kami tak bertemu. Semenjak ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah. Aku yang memutuskan untuk tinggal bersama ayah di Jakarta dan dia memutuskan untuk tinggal bersama Ibu di Yogyakarta. Saat kami berpisah adikku baru tamat SD dia masih sangat kecil untuk menjadi korban pertikaian antara ayah dan ibu.





Hampir tiga puluh menit aku mondar- mandir di stasiun untuk mencarinya tapi sungguh aku tak dapat mengenali wajah adikku sendiri. Rasa bersalah perlahan menghampiri.

“Kakak macam apa aku ini,  wajah adik sendiripun tak dapat ku kenali.” Bentakku keras hingga membuat penjaga stasiun kaget.

Perlahan stasiun mulai sepi dan aku masih belum menemukan adikku. Rasanya tak ingin ku langkahkan kaki ini pulang. Ayah pasti akan menanyakan di mana Ira. Mengapa aku pulang bersamanya. Ayah sudah teramat rindu dengan anak bungsunya itu.

Aku menghempaskan badan ke tiang yang ada di peron tiga. Rasa bersalah nampak jelas di wajahku. Tiba-tiba saja aku di kagetkan oleh seorang perempuan yang tiba-tiba saja ada di depanku. Dia tersenyum dan menatapku dengan wajah riang. Dia wanita yang tadi aku ajak bicara di bangku tuggu peron tiga. Ternyata dia belum pulang.
“Mba, kamu menunggu siapa? Kenapa belum pulang juga?”  Ucapku padanya Dia hanya tersenyum dan kali ini senyumnya seakan mendamaikanku.
“Jangan senyum-senyum saja mba, Ini sudah larut tidak baik sendirian malam hari dan di tempat terbuka seperti ini.”
“Kamu menunggu siapa? Kenapa belum pulang? Bukankah kereta terakhir telah datang.” Ucapnya padaku
“Aku menunggu adikku. Bodohnya aku tidak mengenali wajahnya sehingga aku kesulitan untuk menemukannya. Kamu sendiri menunggu siapa.?”
“Aku menunggu keluargaku.” Jawabnya singkat
“Lalu mana keluargamu? Bukankah kereta terkhir telah datang.”
Dia hanya tersenyum dan memelukku. Seketika aku kaget pelukkannya sungguh erat hingga membuatku sulit untuk bernapas.
“Siapa wanita ini? Apa dia adikku.” Lirihku di hati.


“Maaf kamu siapa mba? Apa kamu Ira adik yang ku tunggu dari tadi?”
Dia terseyum dan memberiku satu buah photo usang.  Sontak air mataku menghujan melihatnya. Photo itu adalah photo keluarga kami lengkap dengan ibu dan ayah saat kami masih kecil. Aku memeluk Ira dengan pelukkan hangat layaknya seorang kakak yang teramat merindukan adikknya karena sudah lama tidak bertemu. Disini di Peron tiga stasiun Jatinegara untuk pertama kalinya aku bertemu perempuan asing yang ternyata adik yang kutunggu. 

Sajak Sakit Gigi


Aku ingin
Menguras seluruh tabah
pada sekujur tubuh dalam-dalam
dan menghabisimu pada nafasku yang ngilu.
Aku ingin bernyanyi dengan mulutku yang melengkung seperti bulan sabit malam ini.
Aku ingin mengadu pada cuaca yang remang di sepanjang jalan
Ada setumpuk gundah di mulutku ketika  gusi-gusi mengeram, menjerit, menumpuk kecewa.
Ketika hening tak lagi peduli akan kegaduhan yang ku rasa.
Aku ingin bercumbu dengan gigi-gigiku yang lelah termakan ambisi.

Bogor, 2019

Tentang aku dan kamu yang pernah menjadi kita

Aku lebih memilih pergi daripada terus berada disampingmu sedang kau mencintaiku hanya dalam ke pura-puraan.

Bagiku menerima sebuah kejujuran yang menyakitkan jauh lebih menenangkan daripada dibahagiakan dengan berlipat kebohongan.

Aku ingin bercerita sejenak tentang aku dan kamu yang sempat menjadi kita.
Kita yah mungkin kau dan aku canggung dengan kata itu.
kata yang dulunya sempat membuat raga ini bergerak melawan panas terik matahari dan menerjang hujan yang membuat sekujur tubuh ini basah.
demi meja yang menanti di sebuah cafe itu.

Saat aku dan kamu duduk berhadapan di meja yang sama dengan dua cangkir kopi pahit dan ditemani sebuah buku yang berisikan tentang revolusi. Begitu banyak buku-buku yang kau bawakan untukku katanya agar kita bisa bertukar pikiran.
Agar kita bisa saling berbagi cerita.
Agar kita bisa blablablablablablaa lainnya...
Hahahaa. Sungguh lucu hari-hari itu.

Hari-hari yang kita lewati dengan senyum tanpa setetes air mata.
oh bahagianya aku

Hingga sampai pada akhirnya aku dan kamu tersadar bahwa kita berada ditengah kebohongan yang menina bobokan hati.
Ternyata semua yang kita telah lewati hanyalah sebuah kebohongan.
Yah kebohongan yang kau dan aku buat untuk menghibur masing-masing hati tanpa tersadar ada ruang di hati yang tersakiti.

Kembalinya Surau Tua

Kembalinya Surau Tua

Oleh: Rani Haulya

Di tempatku surau hanya menjadi bangunan tua dan rumah singgah para nelayan ketika
telah pulang melaut. Bangunan kecil yang hampir berumur se-abad itu makin hari makin tak
terurus. Dinding-dinding kayu yang mulai rapuh dan atap yang terbuat dari seng itu mulai bocor
sehingga ketika hujan turun rintiknya membasahi sajadah panjang yang ada di dalamnya. Begitu
juga ketika panas datang terik matahari memancarkan sinarnya hingga masuk ke surau. Hanya
beberapa sudut dan tiang saja yang masih bagus di surau itu. Mungkin karena kayu yang di
gunakan untuk membangun mesjid itu adalah kayu yang terkenal sangat kuat dan tahan lama.

Seluruh warga di desaku sudah tidak peduli dengan surau penuh sejarah peninggalan
nenek moyang. Bangunan kecil itu tidak tampak seperti surau-surau biasanya. Ia lebih tampak
seperti gubuk untuk persinggahan para nelayan. Memang di desaku ini pengetahuan warga
tentang agama masih sangat minim apalagi perhatiannya terhadap tempat ibadah. Ulama-ulama
banyak yang sudah tua sehingga tidak sanggup lagi untuk membersihkan tempat ibadah yang
satu ini. Selain karena usianya yang sudah terlalu tua juga karena nelayan-nelayan yang singgah
ke surau itu tidak memperhatikan kebersihannya. Tidak sedikit dari mereka yang sepulang dari
melaut hanya membersihkan badan sekedarnya kemudian datang ke surau untuk beristirahat.
Surau telah berubah fungsi dari tempat ibadah menjadi tempat singgah.

Hingga pada suatu hari ketika pak Malin pulang melaut. Setelah menepikan perahunya ia
singgah di surau dan sejenak membaringkan diri di sajadah panjang yang sudah usang itu. Ia
merasa ada yang berbeda dengan sajadah itu. Hari ini sajadah nampak sedikit lebih bersih dari
biasanya. Kemudian ia terduduk dan memperhatikan setiap sudut di surau itu. Ia melihat surau
ini tidak seperti biasanya. Seperti ada seseorang yang membersihkannya. Pak Malin akhirnya
memutuskan untuk mengelilingi setiap sudut surau itu. Ia melihat tidak ada seorangpun yang
berada di area surau tua itu. Ia perhatikan dari kejauhan memang ada beberapa orang nelayan
yang sedang menepikan perahunya. Tetapi pak Malin menggelengkan kepalanya ketika melihat
para nelayan lainnya. Seakan mengatakan bahwa tidak mungkin mereka yang melakukannya.

Setelah berkeliling hampir beberapa kali Ia tetap tidak menemukan tanda-tanda bahwa
ada seseorang yang datang untuk membersihkan surau ini. Akhirnya pak Malin memutuskan
untuk pulang dan menceritakan tentang surau tua itu kepada istrinya.

“Lalu menurutmu siapakah yang telah membersihkan surau tua itu?”

“Nelayan yang datang lebih awal dari bapak.”


“Tidak, aku lebih dulu datang dari pada yang lainnya.”
“yakin?

“Yakin.! Dengan wajah penuh percaya diri pak Malin meyakinkan istrinya bahwa ia
nelayan pertama yang sampai di lebih dulu di pantai di bandingkan yang lainnya.

Setelah itu pak Malin membaringkan badan ke tempat tidurnya. Ia masih penasaran
mencoba menerka siapa yang telah berbaik hati untuk membersihkan surau tua yang sudah mulai
lapuk dan sangat kotor itu. Kawan-kawannya para nelayan tidak mungkin mau membersihkan
surau itu. Pak Malin terus menerka hingga ia terlelap.

Keesokan harinya saat hendak melaut pak Malin singgah ke surau tua untuk melihat
keadaan surau. Saat ia melangkah kaki ke surau ia terkejut melihat surau semakin bersih dan
sajadah panjang tempat nelayan membaringkan badannya sangat bersih dan wangi. Sepertinya
sajadah ini baru di cuci oleh seseorang. Tanpa berpikir panjang pak Malin langsung mengeliligi
surau. Ia tidak melihat ada seorang pun yang berada di sekitar surau itu. Bahkan tidak ada jejak
seseorang pun yang membekas di sekitarnya. Tidak lama setelah berkeliling di surau pak Malin
di kagetkan dengan kedatangan lima orang rekannya.

“Apa ada yang hilang pak? Tanya salah seorang dari nelayan tersebut

“Lihat yang terjadi disini.semuanya bersih. Pak Malin yang membersihkannya? Dengan
wajah penuh tanda tanya pak Angku menatap ke arah pak Malin

“Bukan. Saya sedang mencari seseorang yang telah membersihkan surau tua ini. Apa
bapak-bapak tidak melihatnya juga?”

“kami baru datang dan baru tau bagaimana kondisi surau ini pak, mana mungkin kami
melihat ataupun mengetahui siapa yang telah berjasa membersihkan surau tua ini.

“Sudah terlalu siang, mari kita berangkat melaut, nanti keduluan angin yang bawa ikan-
ikan kita. Nanti saja kita pikirkan siapa yang membersihkan surau ini . Bukankah lebih bagus

kalau surau ini bersih dan kembali hidup seperti dulu.” Ucap pak Nandi yang merupakan ketua
nelayan.

Semua nelayan pergi meninggalkan surau. Pak Malin yang masih penasaran itu juga ikut
berlalu meninggalkan surau. Walau sejuta tanya menyelimuti kepalanya. Karena selama ini tidak
ada seorangpun di desa kami yang peduli terhadap tempat ibadah yang satu ini karena sudah
sangat tua dan dinding-dindingnya yang mulai lapuk. Bangunan ini lebih cocok di jadikan
sebagai tempat singgah bukan surau karena sudah beberapa bulan tidak ada yang
mengumandangkan azan dan sholat berjamaah di dalamnya.

Saat sore hari ketika matahari mulai kembali ke peraduannya. Beberapa nelayan kembali
ke darat menepikan perahu dan menjual ikan-ikan hasil tangkapan mereka. Setelah itu mereka
berbaring sejenak sambio berbincang-bincang di surau tua.

“Sepertinya laut mulai bosan dengan kita, tangkapan ikan semakin hari semakin sedikit.
Apa kita dikutuk laut?” Ujar pak Nandi

“hahaha. ada-ada saja pak Malin mana mungkin laut bisa mengutuk yang bisa mengutuk
kita hanya Tuhan. Lihat saja surau tua ini. Tiba-tiba menjadi bersih dan kita tidak mengetahui
siapa yang telah membersihkan surau ini. Saya tidak melihat adanya tanda-tanda seseorang
membersihkannnya.”Jawab pak Malin

“Mungkin saja seseorang yang telah membersihkannya. Sseorang yang berbaik hati
membersihkan tempat peristirahatan kita ini.” Sahut pak Nandi

“Siapa dia? Apa anda mengetahuinya pak?”

“Tentu saja saya tidak tau pak Malin, dari pada kita pusing memikirkan siapa yang telah
berbaik hati membersihkan tempat ini lebih baik kita minum tuak saja ke warung sambil
berkumpul dengan nelayan lainnya sekedar untuk menghilangkan rasa penat akibat hasil
tangkapan yang sangat sedikit.
Selain beristirahat di surau tua, kebiasaan lain para nelayan ketika hasil tangkapannya
sedikit biasanya mereka meminum tuak di warung sebelah surau tua itu. Tuak, surau dan pak
Nandi seperti satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan lagi. Jika pak Malin memilih pulang ke
rumah setelah selesai membaringkan badan di sajadah panjang surau tua lain halnya dengan pak
Nandi. Setelah membaringkan badannya di surau tua Ia langsung ke warung sebelah surau untuk
berbincang-bincang dengan warga. Ia akan pulang setelah warung sepi dan warga telah kembali
ke rumah masing-masing.

###

Ketika subuh datang seluruh warga di kagetkan dengan adanya suara azan yang berasal
dari surau tua itu. Tidak ada warga yang berani keluar untuk memastikan siapa yang telah
mengumandangkan azan. Warga mengira itu adalah suara azan arwah orang-orang yang dulunya
setia menghuni surau itu. Karena seperti yang telah diketahui di surau tidak ada alat pengeras
suara hanya ada tiga lampu pijar dimana dua lampu di dalam surau dan satu lampu di
halamannya.

Pak Malin yang terkejut mendengar suara azan itu langsung keluar dari rumahnya dan
berjalan menuju surau. Ia yakin bahwa yang azan itu adalah orang yang sama dengan orang yang
membersihkan surau.

Sesampainya di surau pak Malin melihat lampu-lampu surau terang dan sebuah microfon
terletak di depan sajadah. Ia mencoba memanggil-manggil siapa yang ada di dalam surau itu.
Hasilnya nihil ia tetap saja tidak menemukan siapapun dalam surau. Akhirnya pak Malin
memutuskan untuk melaksanakan sholat subuh di surau. Ini pertama kalinya pak Malin
melaksanakan solat di surau tua setelah hampir setahun surau ini tidak ada yang mendatanginya
untuk beribadah.

Pak Malin berada di surau itu hingga para nelayan keluar untuk melaut. Ia seperti
menemukan sebuah rumah baru yang meyejukkan jiwa. Pak Malin hanyut dalam zikirnya.

Sementara para warga yang penasaran langsung mendatangi surau itu dan menyangka bahwa
yang mengumandangkan azan subuh adalah pak Malin.

“Wah, pak Malin rupanya yang tadi pagi bikin geger kampung.” Ucap pak Nandi

“Ada-ada saja pak Nandi, jelas bukan saya yang mengumandangkan azan subuh. Saya
datang ketika azan telah selesai dan menemukan sebuah microfon di depan sajadah.”

“Lalu kalau bukan anda siapa lagi?”

“Itu yang perlu kita selidiki. Siapa yang tengah berusaha mengembalikan surau tua ini.”

Ketika mendengar ucapan pak Malin bahwa bukan dia yang mengumandangkan azan
subuh tadi pagi. Seluruh warga panik dan menduga bahwa yang mengumandangkan azan adalah
arwah dari moyang mereka yang dulunya adalah penghuni surau itu. Warga menganggap
kutukan sedang menghampiri desa mereka karena hasil laut semakin hari semakin menyusut.

“Desa kita telah dikutuk.” Celetuk pak Nandi sambil melepaskan ikatan perahunya dan
pergi melaut lalu diikuti oleh para nelayan lainnya.

Siang itu seluruh warga sibuk membicarakan tentang azan subuh yang misterius dan
surau tua yang kembali bersih.

###

Saat senja datang para nelayan kembali ke darat. Kali ini tidak ada yang datang ke surau
tua untuk beristirahat kecuali pak Nandi dan pak Malin.

“Menurut anda siapa yang telah membuat ulah di kampung kita ini?” ucap pak Malin

“Desa kita telah dikutuk.” Lagi-lagi pak Nandi menggeluarkan kata-kata itu dari
mulutnya

“Siapa yang telah mengutuk desa ini?”

“Laut!”

“Kenapa?”

“Penghiatan.”

“Kenapa?” ulang pak Malin yang kebingungan mendengar jawaban pak Nandi

“Penghianatan!”

“Siapa yang telah berkhianat??”

“Manusia.!”

“Saya semakin tidak mengerti anda”

“Mari pulang.!” Jawab pak Nandi singkat

Merekapun berjalan menuju rumah masing-masing. Namun pak Malin masih memikirkan
maksud dari perkataan pak Nandi tadi.

Saat subuh datang suara azan kembali berkumandang di surau tua. Pak Malin dan
beberapa warga lainnya bergegas mendatangi surau tua untuk mengetahui siapa yang telah
mengumandangkan azan dan mengembalikan surau tua. Namun hasilnya tetap sama mereka
tidak menemukan seorangpun berada di sekitar surau. Melainkan sebuah microfon yang
tergeletak di depan sajadah.

Seluruh warga yang datang bersama pak Malin memutuskan untuk melaksanakan sholat
subuh berjamaah di surau tua. Semakin hari jamaah sholat subuh di surau tua semakin ramai
karena mereka penasaran dengan azan subuh yang misterius itu. Surau tua seperti kembali hidup
hanya karena suara azan subuh yang tidak bertuan.

Ketika selesai melaksanakan sholat subuh di surau tua. Pak Malin dan beberapa nelayan
lainnya langsung membuka ikatan perahunya dan melaut lebih awal. Kini tangkapan ikan mereka
sedikit demi sedikit mulai meningkat. Namun anehnya setelah beberapa minggu ini para nelayan
tidak menemukan sosok pak Nandi berada di tengah-tengah mereka. Ia juga tidak terlihat di
warung tempatnya menghilangkan lelah ketika pulang melaut.

Hari ini sebelum waktu subuh masuk pak Malin bergegas ke surau tua. Ia masih
penasaran dengan suara azan misterius itu. Sesampainya di surau ia melihat beberapa orang
warga telah lebih dulu sampai di surau. Mereka juga ingin mengetahui siapa yang telah

mengumandangkan azan subuh. Namun saat mereka beramai-ramai datang tidak ada seorangpun
yang maju untuk mengumandangkan azan. Hingga akhirya beberapa orang warga maju da
menawarkan diri untuk mengumandangkan azan. Dan mereka sholat subuh berjamaah.
Saat hendak melaut pak Malin melihat sosok pak Nandi dari kejauhan tanpa piker
panjang pak Malin langsung menghampirinya.

“Pak Nandi kemana saja, lama tidak terlihat?”

“Saya pamit pak Malin. Kutukan telah hilang.” Ucap pak Nandi sambil melepas ikatan
perahunya dan pergi melaut.

DalamKelam, 2017

Kabar Duka

Kabar duka

Apa yang disembunyikan dari malam ketika pintu dan jendela tertutup rapat
Desauan angin seakan melambai-lambai dibalik tirai
Mengajaknya menari dalam sekat tanpa batas

Dinding kamar hanya menatap dan membisu
Pura-pura tuli pada berita malam
Lentera padam tertiup angin
Gulita malam hilang tertutup awan

Gelisah mulai merapat

Kawan, sampaikan kabar duka pada ayah
Gadis perawannya telah ditiup angin malam

GelasKaca
Bekasi

Laut



Pada angin yang memburu ombak dengan gelombang
.
Buih air yang menggaramkan lautan
.
Pantai dan pulau bagai surga dalam bisingnya suara deburan ombak
.
Pelaut ulung berlayar dengan arah angin tanpa meninggalkan jejak
.
Tak takut akan badai yang kan menerjang.
.
Ia terus berlayar mengikuti angin
.
Ia sematkan rindu pada kedalam laut dan menyembunyikan cinta di balik terumbu karang
.



Merak, 2016

GelasKaca

- Copyright © Gelas Kaca - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -