Kesaksian Seorang Murid
Pict by google
Kesaksian Seorang Murid
Jubahnya merah terkebas kemarau sebelum terkulai dalam tangan seorang perempuan. Enggan ia menengadah ketika berjalan sebab hidup yang menancapkan diri tak pernah bisa dipanggul. Tingkap yang terbuka menurunkan orang lumpuh di atas sepasang kakinya yang fasih menapak dan hampir tak lagi ia gunakan. Tilam yang tergelar telah sempurna menjadi alas bagi pinggan dan pialanya. Ia memang masih menapak dalam bentuk ketika si lumpuh mulai berjalan dan para tahir sekejap melupakannya. Langit di atas menjadi atap yang terpuji ketika menyembulkan tiang-tiang awan. Laut di bawah menjadi kesedihan yang lengkap ketika menyembunyikan duka nestapa Yunus. Mulailah ia mengambang di tengah-tengah dengan kaki yang terkepung dua belas bintang dan mahkota matahari yang lembut dan keemasan. Para nelayan yang sebentar lagi menebar jala sekejap tersadar bahwa ia tak benar-benar menapak ketika melaju di atas air sambil menjaga agar batu karang yang turut tidak tenggelam.
Ia menumbuhkan rumput bagi sisi kambing yang gersang, mengusap tanduk di kepala kemarau yang lembut dan mengisi penuh anggur ke dalam tempayan tuan pesta yang kosong. Ia menyisihkan air dari tempayan pembasuhan untuk menenggelamkan kota ketika para pembangkang mencoba mengacungkan pedang. Buluh yang terkulai memang tidak akan dipatahkan sebab ia menciptakan tanpa menyentuh dan melenyapkan hanya dengan memejam. Rohnya ia tinggalkan dalam tubuh pelacur terakhir yang disentuhnya sebelum ia memilih meninggikan diri untuk menegaskan bahwa kenisah tiga puluh tiga tahun yang rubuh memang dapat dibangun kembali oleh tukang bangunan yang cermat dan batu penjuru yang tepat hanya dalam tiga hari.
(Naimata, 2013)
Mario F Lawi
Dibodohi Rasa
Pict by Google
Rasa ini membodohiku
Dunia khayalan mencaci ku
Menertawaiku ketika terbang bersamamu
Memeluk dan menggigit bibirmu
Dunia khayalan mencaci ku
Menertawaiku ketika terbang bersamamu
Memeluk dan menggigit bibirmu
Aku terkurung dalam penjara rasa
Menatapmu saJa aku tak berani
Lalu, bagaimana mungkin khayalanku nyata
Dan lagi aku dibodohi oleh rasa
Menatapmu saJa aku tak berani
Lalu, bagaimana mungkin khayalanku nyata
Dan lagi aku dibodohi oleh rasa
Kazumi Yoshiko
Gelas Kaca
TerASAasing
Pict by Google
Dulu kita dekat sangat dekat
Bahkan bisa dikatakan jarak antara kita hanyalah sebuah pintu yang bebas kapanpun kau hendak membukanya....
Bahkan bisa dikatakan jarak antara kita hanyalah sebuah pintu yang bebas kapanpun kau hendak membukanya....
Tapi kini kita terasa asing.
Takku temui lagi kita yang dulu.
Kamu yang dulu mengetahui keseharianku
Kamu yang dulu mengetahui isi hatiku (bahagiaku,sedihku)
Begitupun sebaliknya.
Takku temui lagi kita yang dulu.
Kamu yang dulu mengetahui keseharianku
Kamu yang dulu mengetahui isi hatiku (bahagiaku,sedihku)
Begitupun sebaliknya.
Kita telah berubah menjadi
Aku dan kamu
Semua menjadi asing
Aku dan kamu
Semua menjadi asing
Menjadi asing memang tak mudah.
Tapi itulah kita yang sekarang
Ter(asa)asing satu sama lain
Ter(asa)asing satu sama lain
Kazumi Yoshiko
Gelas Kaca
Rindu
Pict by Google
Malam sunyi mencekam jiwa.
Menjerit hingga suara terbang menembus awan.
Sendiri aku termenung memunggung malam.
Sendiri aku meratapi langit.
Sendiri aku meratapi langit.
Rindu memanG menyakitkan
Meremukan hati hingga debu.
Oh Allah.....
Tawanlah rindu
Kurung ia disudut jeruji
Tawanlah rindu
Kurung ia disudut jeruji
Ajari ia bertahan dan bersabar
Ajari ia mengerti tanpa harus dipahami
Ajari ia mengerti tanpa harus dipahami
Agar ia tak membunuhku perlahan
Kazumi Yoshiko
Gelas Kaca
#WanitaGelasKaca
langkah dan melangkah
Perihal langkah dan melangkah
Jalanan terjal di depanku
Ia tak bertepi
Tak berbatas
Tak berarah
Hamparan luas lepas
Sunyi sepi
Aku sendiri
Merajuk rindu
Mencari tanah untuk menanamnya
Pohon takdir tak dapat ku elakkan
Aku membawa takdirku
DIA telah melukis kisah indah
Dalam sebuah cerita kehidupan
Lalu kemana Hidup ini akan ia bawa selanjutnya
Padang luas
Menjadi kebebasan
Mencari arah dan tujuan untuk kisah indah itu
Jejak kaki kian panjang
Gemuruh kebebasan
Mengikrarkan peradaban
Jakarta, 19 Desember 2016
@Kazumi_yoshiko
Selamat Hari Ibu, Mah
Ibumu
Ibumu
Ibumu
Lalu
Ayahmu
Katanya sih sekarang hari Ibu.
Jujur saja aku tak begitu paham maksud dari hari Ibu ini mah.
Karena menyanyangimu, mendoakanmu, mengajakmu berdiskusi bukan hanya hari ini
Tiap hariku lakukan
Bahkan ditiap detak jantungku selalu ku sebut namamu
Btw tak apalah yah aku ikut_ikutan ngerayain hari Ibu
Oh iya mah, ada banyak hal yang belum ku ceritakan kepadamu selepas kepulanganmu kemarin
Aku banyak belajar hal baru tentang hidup
Hidup yang ku bayangkan terkadang tak sama dengan kenyataannya
Mah, kadang ada kalanya hal sulit harus kita jalani sendiri tak ada jalan untuk mundur yang ada hanya satu jalan lurus ke depan karena jalan ke belakang telah ditutup (buntu)
Pilihan tersulit dalam hidup adalah berpisah denganmu mah
Maaf mah, aku belum mampu memberimu banyak hal
Maaf, untuk luka yang kau sembunyikan diam_diam
Maaf, untuk kata “ah” yang terlalu sering aku ucapkan
Maaf, maaf, maaf mah aku terlalu sering membuatmu khawatir, terlalu sering membuatmu luka
Membuatmu tersenyum bangga melihatku setiap hari
Itulah impianku
Sepertimu
Aku ingin menjadi sepertimu
Bahkan lebih
Maafkan aku yang terlalu rakus memaknai hidup
Doamu adalah senjata tertajamku tanpa senjata itu
Aku hanyanya seonggok debu
Ku mohon tetaplah ikhlas
mendoakanku
Tiada aku tanpamu
Selamat hari ibu
Wanita terhebat didunia
IBU
Jakarta, 22 Desember 2016
@Kazumi_yoshiko
Negeriku, seperti apa rupamu sekarang?
Pahlawan katanya
Wakil rakyat katanya
Demokrasi katanya
Sudahlah, cukup sudah derita yang ditanggung rakyat kecil
Jangan jadikan kami sasaran lemparan batu
Atau bom molotov yang kau katakan itu bom nyasar
Berharap semua hancur porakk poranda
Dan kau datang bagai malaikat menyelamatkan seribu nyawa
Berhenti menebar racun kepada kami pemuda/i generasi penerus
Pasrah dan tadahkan tangan
Apa ini yang akan kami lakukan?
Deru tangisan air mata kian berurai
Melihat negeriku di hancurkan oleh segelintir setan bertopeng malaikat
Berlagak bagai pahlawan
Perlahan kau berikan penjajahan
Bukan lagi penjajahan fisik
Tapi mental kami yang kau jajah
Kau suruh kami angkat tangan atas semua kejadian ini
Dan kau merajai negeri kecintaan ini
Pahlawan??
Wakil rakyat??
Demokrasi??
Seperti apa rupa mereka sesungguhnya??
Jakarta, 24 Desember 2016
@Kazumi_yoshiko


