PENDATANG
PENDATANG
Nanti, ketika aku pergi, akan tiba pendatang lain
dengan kalimat lain. Mungkin mereka jelaskan, segenap
misteri kehidupan; tetapi tidak tentang mereka sendiri. Selalu,
kata mereka, “Ada lampu. Tapi bukan buat disuluh dalam diri.”
Namun, karena bertetangga, kau senantiasa terus tergoda
untuk tahu tentang mereka. Ada kalanya lupa, tetapi lebih sering
kau saling suruh berbaku-hasut mendesak mereka. Sampai suatu ketika
mereka berkata, “Ada mitos. Tapi semua cuma dongeng tak berguna.”
Besoknya, terkejut, kausaksikan semua: puing-puing hangus,
tubuh-tubuh gosong, rumah-rumah rata. Di tengah sangit udara, kau
tiba-tiba ingat kejadian semalam, dan berkata, “Lampu itu! Ada nyala
di dada mereka!” semua pun lalu menangis. Menangis, sejadi-jadinya.
Payakumbuh, 1999
Gus Tf
Hal Tak Penting
Hal Tak Penting
Kami tidur setiap malam seperti kami bangun setiap pagi.
Apa yang bisa kami makan hari ini?
Kentang, tomat, daging, kiriman roti dari Bakery.
Semur, opor, sup, sangat cocok dengan nasi.
Ada juga keripik ikan pari, cemilan kami setiap kali duduk di depan televisi.
Kami duduk di depan televisi seperti kami duduk di depan kerabat.
Lihat.
Leher koyak, kepala somplak, di kaki meja tergeletak sepotong kapak.
Adakah ia kapak yang kemarin kami pinjam dari tetangga?
Darah mengalir, menetes ke cangkir, memadat mengental
seperti agar-agar.
Lihat. Ia mengiris, dan mencowelnya, seperti kami mengiris dan mencowel mentega.
Ia menjilat, dan mengulumnya, seperti kami menjilat dan mengulum gula-gula.
Adakah ia memang rasakan betapa legitnya?
Adakah ia memang kerabat --bagian dari kami juga?
Kami tertawa-tawa.
Tergeli-geli seperti bukan dengan televisi.
Tapi selalu, setiap senja, seorang lelaki turun dari taman kota.
Dari pintu pagar, ia berteriak, ''Tidakkah mengherankan bahwa kita hidup?''
Sungguh tak penting.
Ia manusia.
Si gila.
Berita sore yang kami nanti: Seberapa banyak saham kami naik hari ini?
Apa yang bisa kami makan hari ini?
Kentang, tomat, daging, kiriman roti dari Bakery.
Semur, opor, sup, sangat cocok dengan nasi.
Ada juga keripik ikan pari, cemilan kami setiap kali duduk di depan televisi.
Kami duduk di depan televisi seperti kami duduk di depan kerabat.
Lihat.
Leher koyak, kepala somplak, di kaki meja tergeletak sepotong kapak.
Adakah ia kapak yang kemarin kami pinjam dari tetangga?
Darah mengalir, menetes ke cangkir, memadat mengental
seperti agar-agar.
Lihat. Ia mengiris, dan mencowelnya, seperti kami mengiris dan mencowel mentega.
Ia menjilat, dan mengulumnya, seperti kami menjilat dan mengulum gula-gula.
Adakah ia memang rasakan betapa legitnya?
Adakah ia memang kerabat --bagian dari kami juga?
Kami tertawa-tawa.
Tergeli-geli seperti bukan dengan televisi.
Tapi selalu, setiap senja, seorang lelaki turun dari taman kota.
Dari pintu pagar, ia berteriak, ''Tidakkah mengherankan bahwa kita hidup?''
Sungguh tak penting.
Ia manusia.
Si gila.
Berita sore yang kami nanti: Seberapa banyak saham kami naik hari ini?
Payakumbuh, 1997
Gus tf
PERCINTAAN HULU DAN MUARA
PERCINTAAN HULU DAN MUARA
jangan pernah kau ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih
sebagaimana hulu. ia selalu menyimpan rindu pada muara
sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah
lalu desir air. potongan-potongan ranting yang tersangkut
“sampaikan salam pada muara. aku hulu yang berkabung rindu!”
demikianlah senantiasa ia nyanyikan di senja-senja lembab
juga taring waktu yang runcing
kisah apa yang tak kuceritakan kepadamu. meski parasmu samar
dan aku hanya melukismu di tebing-tebing batu
kubayangkan seekor belibis putih membasuh paruhnya di tepi sungai
ikan-ikan menggoda. hari begitu saja menjadi penjadi petang
“bukan. aku hanya akar tua yang lapuk direndam musim!”
sesungguhnya suara yang tak ingin kudengar. kau akan berlari
di antara ilalang dan batang-batang
sajak ini akan terus kukirim untukmu, kekasih
meski ceritanya selalu saja tentang perih
Payakumbuh
iyut fitra
jangan pernah kau ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih
sebagaimana hulu. ia selalu menyimpan rindu pada muara
sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah
lalu desir air. potongan-potongan ranting yang tersangkut
“sampaikan salam pada muara. aku hulu yang berkabung rindu!”
demikianlah senantiasa ia nyanyikan di senja-senja lembab
juga taring waktu yang runcing
kisah apa yang tak kuceritakan kepadamu. meski parasmu samar
dan aku hanya melukismu di tebing-tebing batu
kubayangkan seekor belibis putih membasuh paruhnya di tepi sungai
ikan-ikan menggoda. hari begitu saja menjadi penjadi petang
“bukan. aku hanya akar tua yang lapuk direndam musim!”
sesungguhnya suara yang tak ingin kudengar. kau akan berlari
di antara ilalang dan batang-batang
sajak ini akan terus kukirim untukmu, kekasih
meski ceritanya selalu saja tentang perih
Payakumbuh
iyut fitra
menu kandang tiga binatang
menu kandang tiga binatang
kucing tanahdata:
di ranahku, menu ayam berserakan
menu itik dalam peraku
menu anjing tersaji depan pintu
menu kelinci langsung ke dipan
hanya menu untukku yang bisa berdekatan
dengan wajah makanan majikan
harimau agam:
sejak dikandangkan, aku kehilangan petualangan
aku tak lagi sempat menunjukkan martabat raja hutan
bertarung di rimba raya memburu santapan
di kandang kebun berbintang ini makananku selalu disediakan
aku tinggal meladani pengunjung dengan auman dan taring disunggingkan
agar mereka mengira itulah senyuman
kambing limapuluh kota:
mengumpulkan makanan bagiku gampang
tanah di ranah ini menumbuhkan seribu satu daun untukku
daun di ladang, daun di hutan,
daun di jalanan bahkan daun di halaman
tidak pantas ada cemas, selama masih mampu mengayuh tubuh
sedikit pun aku tiada ragu
aku akan terus menjelajah
mencari dan mencuri daun demi daun
Zelfeni Wimra
2014
kucing tanahdata:
di ranahku, menu ayam berserakan
menu itik dalam peraku
menu anjing tersaji depan pintu
menu kelinci langsung ke dipan
hanya menu untukku yang bisa berdekatan
dengan wajah makanan majikan
harimau agam:
sejak dikandangkan, aku kehilangan petualangan
aku tak lagi sempat menunjukkan martabat raja hutan
bertarung di rimba raya memburu santapan
di kandang kebun berbintang ini makananku selalu disediakan
aku tinggal meladani pengunjung dengan auman dan taring disunggingkan
agar mereka mengira itulah senyuman
kambing limapuluh kota:
mengumpulkan makanan bagiku gampang
tanah di ranah ini menumbuhkan seribu satu daun untukku
daun di ladang, daun di hutan,
daun di jalanan bahkan daun di halaman
tidak pantas ada cemas, selama masih mampu mengayuh tubuh
sedikit pun aku tiada ragu
aku akan terus menjelajah
mencari dan mencuri daun demi daun
Zelfeni Wimra
2014
Terkenang Pedati
Terkenang Pedati
Iyut Fitrapetang turun di masa kanak, ia ingat tahun-tahun itu
kerbau-kerbau lewat membawa rumah-rumah
membawa goni padi, antara lenguh dan lecut cemeti
apakah namanya itu, ibu?
ia bertanya saat gerobak itu berderit-derit setiap hari
pedati, jawab ibunya seraya menutup jendela dan pintu
malam akan turun di dusun itu
ia ingat malamnya ada rasian yang singgah
bersama pedati ia menumpang sampai ke ujung jalan
sebuntal pakaian dan harapan ia pun sampai di perantauan
lalu lalang, simpang-simpang juga cahaya terang benderang
tak ada lenguh selain riuh, tak pula lecut cemeti selain mimpi
ia merasa terkepung dalam keasingan, ia ingin pulang
serupa gegas kota, betapa lajunya usia
sebagaimana petang-petang terus turun, ia kembali bertanya
masih adakah pedati itu, ibu?
tapi ibunya pun sudah teramat tua untuk menjawabnya
Payakumbuh 2014
Kusir Bendi
Kusir Bendi
Iyut Fitra
kuda merah dan bendi merah. sudah berapa jauh penumpang diantarkan
sedari pagi muncul matahari. siang sejenak rumput dan sagu
hingga jelang petang
di antara kleneng genta. ia kisahkan kesepian
tentang kota yang menjulang. laju pacu kendaraan
atau peluh yang kering di badan. ke mana kota ini akan dibawa?
sedari pagi muncul matahari. siang sejenak rumput dan sagu
hingga jelang petang
di antara kleneng genta. ia kisahkan kesepian
tentang kota yang menjulang. laju pacu kendaraan
atau peluh yang kering di badan. ke mana kota ini akan dibawa?
kuda merah dan bendi merah. ia kusir yang sendirian
hidup tergantung pada penumpang. menghiba ketika pekan lengang
ia bayangkan sepuluh tahun nanti. di dalam kandang kuda-kuda mati
terkekang zaman. hilang daya ketika cemeti patah tiga di gelanggang pacuan
ke mana kota ini akan dibawa?
hidup tergantung pada penumpang. menghiba ketika pekan lengang
ia bayangkan sepuluh tahun nanti. di dalam kandang kuda-kuda mati
terkekang zaman. hilang daya ketika cemeti patah tiga di gelanggang pacuan
ke mana kota ini akan dibawa?
kuda merah dan bendi merah
betapa yang lamban akan tertinggal oleh setiap yang gegas
betapa yang lamban akan tertinggal oleh setiap yang gegas
Payakumbuh 2013
kematian
sudah berapa kali kau mendengar berita kematian?
rasanya lebih dari banyak
mereka yang kau kenali dan yang tak kau kenali
pamit menuju kampung halaman
tubuh terkujur lemah tak berdaya
jiwa tanpa ruh tergelatak diatas dipan
bisingnya suara tangisan tak membangunkan tidurmu
mata mata tampak membengkak
menangisi kepulanganmu dari rantau
kucuran air hujan yang mengawan dimata
selalu jadi pengantar tidur abadimu
Kazumi Yoshiko
Pondok Indah, 27 Pebruari 2017
Gelas Kaca